Riset Pertama di Indonesia: 78% Broker Properti Sudah Pakai AI, Tapi Hanya 12% yang Siap Ditemukan AI
By Admin

Studi kolaborasi AREBI dan peneliti Dedy Budiman terhadap 196 broker properti memotret kesenjangan baru di industri properti: broker rajin menggunakan AI, namun belum siap direkomendasikan AI kepada calon pembeli.
nusakini.com, Jakarta, 3 Juli 2026 — Cara orang Indonesia mencari properti sedang berubah. Calon pembeli kini bisa bertanya langsung ke ChatGPT atau Gemini: “Broker properti terpercaya di Bandung siapa?” — dan AI akan menjawab dengan nama. Pertanyaannya: apakah nama broker Indonesia muncul di jawaban itu?
Riset terbaru ini dilakukan oleh Dedy Budiman, M.Pd — Champion Sales Trainer yang telah melatih broker properti di berbagai kota di Indonesia, sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Prasetiya Mulya yang aktif meneliti perilaku konsumen, sales, dan AI visibility di Indonesia — bekerja sama dengan Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI). Temuannya menjadi alarm sekaligus peluang bagi industri.
Dalam survei terhadap 196 broker properti anggota AREBI yang dilakukan pada 2–24 Juni 2026, ditemukan bahwa 78,1% broker sudah menggunakan AI minimal beberapa kali sebulan — angka adopsi yang tinggi untuk profesi yang didominasi usia 45 tahun ke atas. Namun hanya 24,5% yang memahami faktor apa yang membuat nama mereka muncul dalam rekomendasi AI, dan hanya 12,2% yang mengetahui perbedaan antara SEO Google dan optimasi AI serta sudah menerapkan keduanya.
“Temuan paling penting dari riset ini bukan soal teknologi, tapi soal kesenjangan,” ujar Dedy Budiman. “Sebanyak 80,6% broker menilai AI visibility penting untuk bisnis mereka dalam dua-tiga tahun ke depan. Tapi ketika ditanya hambatannya, jawaban terbanyak bukan waktu atau biaya — melainkan tidak tahu caranya dan tidak tahu harus mulai dari mana, masing-masing 41,3%. Kami menyebutnya importance–understanding gap: sadar penting, belum tahu jalannya.”
Klien Sudah Bergerak Diam-Diam
Riset ini juga menangkap sinyal dari sisi konsumen. Sebanyak 25,5% broker pernah mendengar klien menyebut mendapat informasi dari AI dalam enam bulan terakhir, dan 15,8% pernah mengalami klien yang menemukan mereka melalui AI — dengan ChatGPT sebagai AI yang paling sering disebut. Menariknya, pengguna AI bukan hanya investor: mayoritas adalah pembeli rumah untuk ditempati sendiri, pada kisaran budget Rp1–3 miliar.
Data ini mengindikasikan apa yang disebut riset sebagai silent AI-assisted buyer journey — klien menggunakan AI di tahap awal pencarian, lalu menghubungi broker langsung via WhatsApp atau telepon tanpa pernah menyebut AI. Jejaknya tidak terlihat di data traffic, tapi 78,6% broker memperkirakan sebagian klien mereka sudah menggunakan AI dalam proses pencarian properti.
Temuan ini sejalan dengan riset Dedy Budiman sebelumnya, The Rise of AI-Assisted Consumer Information Search (1.596 responden valid), yang menemukan 74,6% konsumen Indonesia telah menggunakan AI untuk riset produk dan 79,8% merasa AI mempercepat pengambilan keputusan.
Marketplace Kuat, Identitas Digital Broker Belum
Riset juga menemukan bahwa 75,5% broker merasa marketplace properti lebih mudah ditemukan AI dibanding broker individual. Ketika membayangkan AI ditanya “siapa broker terpercaya di kota saya”, hanya 7,7% broker yang memperkirakan nama broker individual akan muncul — sisanya memperkirakan AI merekomendasikan perusahaan besar atau marketplace.
Dari lima indikator kesiapan aset digital yang diukur — kelengkapan profil marketplace, LinkedIn aktif, Google Business Profile terverifikasi, liputan media, dan konsistensi identitas digital — hanya 12,2% broker yang memenuhi empat sampai lima indikator.
AREBI: Momentum Profesionalisasi Broker
Ketua Umum AREBI Clement Francis menilai temuan riset ini datang pada momentum yang tepat, di tengah agenda besar profesionalisasi broker properti Indonesia.
“Riset ini memberi kami peta yang jelas. Anggota kami sudah adaptif terhadap teknologi — itu terbukti dari tingginya penggunaan AI. Tugas kami sekarang memastikan broker Indonesia tidak hanya menggunakan AI, tapi juga hadir dan direkomendasikan di dalamnya. Ini bagian dari standar profesionalisme baru: broker yang tersertifikasi, kredibel, dan dapat ditemukan — oleh manusia maupun oleh AI,” ujar Clement.
Saat ini AREBI tengah menargetkan 5.000 broker properti tersertifikasi hingga Oktober 2026, seiring pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 33 Tahun 2025 yang mewajibkan broker properti memiliki sertifikat kompetensi. “Sertifikasi menjawab soal kompetensi dan legalitas. AI visibility menjawab soal keterlihatan. Keduanya adalah dua sisi dari kepercayaan publik terhadap profesi broker,” tambahnya.
Bagi masyarakat dan developer, temuan ini punya implikasi sederhana: rekomendasi properti yang muncul dari AI akan semakin membentuk siapa yang dipertimbangkan calon pembeli — sehingga kredibilitas digital broker menjadi kepentingan bersama seluruh ekosistem properti. (*)